TOLONG KLIK IKLAN DI BAWAH INI, ANDA BAIK SEKALI..^^

1x klik = Rp 250,- Donate Anda

Senin, 21 November 2011

FRIENDS ( From The Past) T-ARA oneshoot fanfiction

Author : L Hirasawa aka Livie Jungiestar Yl

WARNING: DI LARANG COPAS TANPA SEIZIN AUTHOR APA LAGI TANPA MEMBERI CREDIT!!!

Cast:
- T-ARA
- PARK GYURI ( KARA )
- JINON ( F.CUZ)

Genre: Friendship, Comedy, Mystery

Length: oneshoot



Kalian muncul secara tiba-tiba….

Menghilang juga tiba-tiba….

Jika berpikir secara rasional kalian harusnya tidak ada…..

Tapi kenyataannya kalian ada…..

Walau hanya sebentar……

Aku akan mengenang kalian semua..

Teman -teman yang datang dari masa lalu…..



Eunjung melepaskan tas ranselnya yang berat ke tanah, teman-teman sekolahnya yang lain sudah bersiap-siap membuat tenda. Hari ini adalah tur sekolah mereka mengadakan kemping selama semalam di Kyungsangbukdo. Mereka kemping di hutan, Eunjung menepuk nyamuk yang berterbangan di sekelilingnya.



“Aish..mengapa banyak sekali nyamuk.” Kata Eunjung masih menepuki nyamuk-nyamuk itu.



“Mungkin kau belum mandi, makanya terus di gigiti.” Kata Jinon, dia sedang membantu membangun tenda Eunjung dan Gyuri.



Eunjung mendelik kesal pada Jinon, dan laki-laki itu hanya tertawa. Jinon adalah tetangganya sekaligus teman sekolahnya, cowok usil yang suka menggodanya, sedangkan Gyuri adalah teman perempuan yang paling dekat dengannya. Eunjung duduk di bebatuan memperhatikan Jinon yang membangun tenda, Park Gyuri berdiri di dekatnya, dia sedang becermin sambil merapikan rambutnya.



“Yah! Jinon-ah mengapa sepertinya tendanya miring?” kata Gyuri menunjuk tenda, lalu dia kembali memandang cermin.



“Cepatlah! Aku ingin tidur!” kata Eunjung pada Jinon.



“Kalian ini, masih untung aku ingin membantu! Dan kau Eunjung-ah selama perjalanan dari tadi juga sudah tidur,

sekarang mau tidur lagi? Dasar putri babi, kerjaanmu cuma bisa makan dan tidur.” Kata Jinon.



“Mwo? Putri babi?” Eunjung bangkit dari duduknya.



Jinon tertawa, lalu dia berlari kabur menuju pepohonan lebat, Eunjung mengejarnya.



“Yah! Kalian jangan main kejar-kejaran! Selesaikan tendanya!” kata Gyuri.



Tapi Jinon dan Eunjung tidak mendengarkan Gyuri.





----





Eunjung menyibak daun-daun dari pohon rindang yang menghalangi jalannya. Hari sudah mulai gelap, Eunjung lalu mengeluarkan senter dari tas sandang kecil yang di bawanya. Eunjung menyalakan senter dan mulai berjalan lagi.



“Dasar anak sialan itu! dia lari ke mana?” kata Eunjung.



Tadi dia mengejar Jinon dan tanpa sadar sudah terlalu jauh memasuki hutan, sepertinya dia tersesat. Eunjung mengeluarkan ponselnya.



“Tidak ada sinyal, sial!” kata Eunjung.



Eunjung terus berjalan memasuki hutan, dari kejauhan dia melihat sebuah cahaya. Eunjung mendekati cahaya itu, semakin lama semakin jelas sumber dari cahaya itu. Cahaya itu berasal dari lampu terang dari sebuah bangunan besar putih bertingkat tiga, sebuah bangunan sekolah yang tampak tua tapi masih kokoh.



“Ada sekolah di tengah hutan?” kata Eunjung heran.



Eunjung mendekati bangunan sekolah itu dan semakin mendekat dia mendengar denting-denting piano dan suara-suara yang bernyanyi riang.





Roly poly roly roly poly

Nal mi-reonaedo nan tashi

Ne-gero da-gakaseo



Roly poly roly roly poly

Naman boil-kkeoya

Neo-ye-ge nareul boyeo jul-kkeoya



Eunjung lalu mendekati jendela kelas asal suara tersebut, Eunjung mengintip dari luar jendela kelas itu. Ada enam anak perempuan seusia dirinya sedang bernyanyi riang, salah satu dari mereka bermain piano.





Shikye-neun waeh bonayo

Uri mannambu-teo chung meomchwo i-nneunde

Naneun cham mame deuneyo



Na oneurisang-haneyo

Jakku tteollineyo

Keudaereul bogoseo naneun cham mangseo-rineyo



Molla buranhae nan molla michikesseo

Eodi-ro kal-kkabwah hankeo-reum deo

Cheomcheom da-gakallae

Cheomcheom nae nuneseo tteonal su eopt-ke



Roly poly roly roly poly

Nal mi-reonaedo nan tashi

Ne-gero da-gakaseo



Roly poly roly roly poly

Naman boil-kkeoya

Neo-ye-ge nareul boyeo jul-kkeoya



Eunjung terkesima mendengar nyanyian anak-anak itu, suara mereka berpadu harmonis. Anak yang bermain piano melihat Eunjung yang mengintip dari jendela lalu menghentikan permainan pianonya.



“Mengapa berhenti?” Tanya anak yang berambut panjang dan memakai bando putih.



“Ada yang mengintip kita dari luar.” Jawab anak yang bermain piano.



Anak yang bermain piano lalu membuka jendela, dan membuat Eunjung terkejut.



“Masuklah. Jangan hanya mengintip dari luar.” Katanya pada Eunjung sambil tersenyum.





-----



Eunjung duduk di salah satu bangku ruang kelas, sepertinya ini adalah kelas kesenian. Enam anak perempuan memandang Eunjung dari atas ke bawah, dan Eunjung juga menatap mereka. Pakaian sekolah mereka aneh, roknya panjang seperti pakaian sekolah jaman dulu.



“Siapa namamu?” Tanya anak yang berkuncir dua.



“Namaku Eunjung..Ham Eunjung.” Jawab Eunjung.



“Annyeong Eunjung-shi..namaku Park Hyomin.” Kata anak berkuncir dua itu.



“Kalau aku Park Jiyeon.” Kata anak yang memakai bando putih.



“Namaku Park Soyeon.” Kata anak yang bermain piano, lalu dia menunjuk anak berkepang dua yang badannya paling tinggi.



“Dia Ryu Hwayoung.” Kata Soyeon, Hwayoung menundukkan kepalanya sopan dan Eunjung juga menundukkan kepalanya.



“Kalau aku Jeon Boram, yang tertua di sini.” Kata anak yang badannya paling kecil.



"Apa kalain semua tidak sekelas?" tanya Eunjung.



"Tidak, kami beda-beda kelas. Boram dan Jihyun adalah kakak kelas." jelas Hyomin.



“Aku Lee Jihyun, tapi teman-teman memanggilku Qri yang artinya cute dan pretty.” Kata anak berkepang dua yang mempunyai tahi lalat di hidungnya.



“Itu kau sendiri yang memberi nama begitu, bukan kami.” Kata Hyomin.



“Tapi aku memang sesuai dengan nama itu, bukankah aku cute juga pretty?” kata Qri membela diri.



“Jangan pedulikan dia, dia itu memang ratu narsis.” Kata Jiyeon pada Eunjung.



Semuanya termasuk Eunjung lalu tertawa. Lalu mereka kembali diam, saling memandang dan tersenyum satu sama lain.



“Suara kalian bagus sekali.” Kata Eunjung memecah keheningan.



“Terima kasih.” Kata Hwayoung yang dari tadi diam.



“Apa judul lagu itu?” Tanya Eunjung.



“Roly Poly.” kata Boram sambil menyerahkan kertas yang berisi tulisan tangan lirik lagu Roly Poly, Eunjung meraih kertas itu.



“Yang menciptakan nada lagu ini adalah guru pembimbing kami, dan kami menciptakan liriknya.” jelas Soyeon.



“Minggu depan kami akan mengikuti lomba paduan suara dan akan memakai lagu ini.” Kata Hyomin.



Jiyeon berlari kecil menuju lemari kaca yang berisi piala dan pigura foto.



“Lihat, ini penghargaan yang sudah kami terima.” Kata Jiyeon riang.



Eunjung berjalan mendekati lemari kaca itu dan memandang sekilas pada piala-piala itu, lalu matanya jatuh memandang pigura yang berisi foto mereka berenam.



“Mengapa fotonya hitam putih?” Tanya Eunjung, memandang foto yang memang hitam putih.



“Tentu saja hitam putih, sekolah kami hanya punya kamera hitam putih yang berwarna itu kan mahal sekali,” kata Qri.

Eunjung memandang enam gadis itu dengan pandangan heran.



“Kau bercanda? Semua orang sekarang memakai kamera berwarna, aku pikir kalian sengaja membuat supaya fotonya hitam putih.” Kata Eunjung.



“Aku saja tidak pernah melihat kamera berwarna seperti apa.” Kata Hwayoung.



Jangan-jangan mereka semua memang anak desa yang sangat terpencil, dari pakaiannya juga memang sangat kuno

pikir Eunjung dalam hati. Eunjung lalu merogoh kamera digital dari dalam tas selempangnya.



“Kamera berwarna seperti ini.” Kata Eunjung.



Enam anak itu mendekat, tangan Soyeon meraih kamera digital itu dengan hati-hati seakan itu benda yang sangat

berharga. Enam orang itu memandang takjub pada kamera digital itu, sepertinya itu memang pertama kali mereka melihat benda seperti itu.



“Mungil sekali, seperti Boram.” Celetuk Hyomin.



“Bagaimana kalau kita berfoto sama-sama?” Ajak Eunjung.



“Aku paling suka di foto.” Kata Qri centil.



Eunjung lalu meletakkan kamera digitalnya di atas meja yang tinggi. Lalu dia menyalakan timer, kemudian dia cepat-cepat bergabung bersama yang lain dan memasang gaya.



“satu..dua..tiga..senyum..” kata Eunjung.



Mereka bertujuh tersenyum manis menghadap kamera, Lampu kamera menyala dan mengabadikan momen tersebut.





-----





Tidak terasa Eunjung sudah dua jam berada di ruang kelas kesenian bersama enam orang anak yang baru di kenalnya, mereka banyak bercerita lucu dan membuat Eunjung tertawa, walaupun baru mengenal mereka sudah akrab seperti teman lama.



“Apa kau ingin melihat foto pacarku?” kata Hyomin.



Eunjung mengangguk semangat.



“Jangan percaya padanya. Dia suka berbohong.” Kata Hwayoung.



Hyomin menjulurkan lidah, lalu dia mengeluarkan sebuah foto dari saku baju seragamnya dan menyerahkan pada Eunjung, foto itu hitam putih menampilkan sosok laki-laki dengan gaya rambut jadul.


<!-- more --<-->
“Dia tampan bukan?” kata Hyomin.



Eunjung mengangguk, walaupun merasa agak aneh dengan laki-laki di foto itu.



“Kau tidak tahu itu foto siapa?” Tanya Boram pada Eunjung.



“Bukankah itu pacar Hyomin?” kata Eunjung.



Serempak mereka berenam tertawa, dan Eunjung menjadi bingung.



“Bagaimana bisa itu pacar Hyomin? Dia penyanyi terkenal, Jeon Youngrok masa kau tidak tahu?” kata Soyeon masih tertawa memegangi perutnya.



“Youngrok?? Aku baru kali ini melihatnya.” Kata Eunjung.



Enam orang itu kembali menertawainya.



“Yah! Aku tidak kenal Youngrok, tapi aku kenal Superjunior, SHINee, BEAST, MBLQ, SUPERNOVA, BIG BANG dan lain-lain.” Kata Eunjung.



“Apa? Superjunior? SHINee? Itu apa?” Tanya Jiyeon polos.



“Masa kau tidak tahu? Itu semua boyband terkenal.” Kata Eunjung.



“Aku juga baru mendengarnya.” Kata Qri.



Yang lain ikut mengangguk.



“Astaga? Kalian tidak tahu? Apa kau tahu lagu sorry sorry? Itu lagu superjunior.” Kata Eunjung.



Enam anak itu menggeleng polos.



“Seperti ini.” Eunjung lalu mulai menari sorry sorry, tapi enam anak itu memandang Eunjung heran, dan akhirnya Eunjung menghentikan tariannya.





-----





Eunjung melepaskan tas selempangnya dan meletakkannya di atas meja.



“Ah aku lelah sekali, kapan kalian pulang? Aku tersesat, apa kalian bisa mengantarku kembali ke kemah?” Tanya Eunjung.



“Nanti kami akan mengantarmu, tapi sebentar lagi.” Kata Soyeon.



Eunjung mengangguk. Jiyeon membuka tas selempang Eunjung.



“Apa aku boleh membukanya? Sepertinya di tasmu banyak benda menarik.” Kata Jyeon.

Eunjung mengangguk.



Jiyeon menarik secarik kertas selebaran dari tas Eunjung, lalu dia terkejut dan berteriak kencang.



“Aaaahhhh!!!!” kata Jiyeon lalu menjatuhkan kertas itu.



“Jiyeon-ah mengapa?” Tanya Hyomin.



“Itu.. di kertas itu ada gambar monster.” Kata Jiyeon mulai menangis di pundak Boram.



Eunjung meraih kertas yang di jatuhkan Jiyeon, itu adalah kertas selebaran vacuum cleaner. Eunjung tertawa keras.





“Ini kan vacuum cleaner, monster apanya.” Kata Eunjung.



“Vacuum Cleaner itu apa?” Tanya Hwayoung.



“Kalian bahkan tidak tahu vacuum cleaner?” kata Eunjung.



Enam orang itu hanya diam dan saling berpandangan.



“Itu mesin untuk menyedot debu.” Kata Eunjung.



“Jadi itu monster yang menyedot debu?” Tanya Jiyeon masih terisak.



“Bukan monster tapi mesin.” Kata Eunjung.



Eunjung lalu kembali duduk, dia mengeluarkan foto dari dompetnya.



“Ini fotoku dengan temanku Gyuri.” Kata Eunjung menunjukkan fotonya.



Qri meraih foto itu.



“Wow, fotonya berwarna.” Kata Qri.


“Kalau ini fotoku dengan temanku yang satunya lagi.” Kata Eunjung sambil memperlihatkan fotonya dengan Jinon, Hyomin meraih foto itu.





“Ini temanmu atau pacarmu?” Tanya Hyomin.



“Temanku, kami juga tetangga.” Kata Eunjung.



“Kalau begitu bisa kau kenalkan padaku?” Tanya Hyomin penuh harap.



Soyeon menoel kepala Hyomin.



“Yah! Park Hyomin, kau ini tidak bisa melihat namja yang lumayan tampan , pasti langsung minta kenalkan.” Kata Soyeon.



Terakhir Eunjung mengeluarkan foto



“Kalau yang ini pacarku.” Kata Eunjung riang,



Hwayoung dan Boram terkesima melihat foto itu.



“Tampan sekali…” kata Hwayoung.



Jiyeon meraih foto itu.



“Apa ini benar pacarmu, kau beruntung sekali.” Kata Jiyeon.



Eunjung mengangguk sambil menahan tawa.



“Wah benar-benar tampan.” Kata Qri menyambar foto itu.



“Mana, aku mau lihat.” Kata Hyomin, Qri menyerahkan foto itu pada Hyomin.



“Ya ampun rasanya mau pingsan.” Kata Hyomin.



Eunjung tidak bisa lagi menahan tawanya.



“Kalian percaya itu pacarku?” Tanya Eunjung.



“Memangnya bukan ya?” Tanya Soyeon sambil memandang foto itu.



“Tentu saja bukan, itu Lee Minho aktor terkenal.” Kata Eunjung.



“Ah jadi dia itu aktor? Aku pikir dia benar-benar pacarmu.” Kata Jiyeon.



“Jangan bilang kalian juga tidak kenal Lee Minho?” kata Eunjung.



Serempak mereka berenam menggeleng.



“Jadi kalian tidak pernah menonton dramanya? Boys Before Flower? Personal Taste? City Hunter?” Tanya Eunjung lagi.



“Tidak pernah, kami juga baru mendengarnya.” Kata Boram.



Eunjung kembali keheranan, tidak lama kemudian dia mendengar seseorang meneriakkan namanya dari kejauhan.



“Eunjung!! Eunjung!!” itu suara Jinon.



“Itu temanku, mencariku.” Kata Eunjung.



Eunjung lalu meraih tas selempangnya, dan memasukkan foto-foto itu dalam tasnya kecuali foto Lee Minho.



“Foto Lee Minho itu untuk kalian saja.” Kata Eunjung.



“Benarkah?” kata Hyomin girang meraih foto itu.



“Aku pergi dulu.” Kata Eunjung.



“Tidak bisakah kau menemani kami seterusnya di sini?” Tanya Jiyeon.



“Yah! Park Jiyeon jangan bicara omong kosong.” Kata Soyeon.



“Nanti kapan-kapan aku mampir lagi.” Kata Eunjung,



“Mungkin nanti kita tidak akan bertemu lagi.” Kata Boram, lalu mereka semua menunduk sedih.



“mengapa?” Tanya Eunjung.



Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Eunjung, Jiyeon lalu melepas kalung emas loket hati yang di lehernya dan menyerahkannya pada Eunjung.



“Untukmu.” Kata Jiyeon.



“Tidak usah, ini pasti harganya mahal.” Kata Eunjung.



“Itu untuk kenang-kenangan.” Kata Jiyeon.



Eunjung lalu meraih loket hati itu dan membukanya, di dalam loket itu ada foto hitam putih mereka berenam.



“Eunjung..Eunjung!!!” Suara Jinon kembali terdengar.



“Aku pergi dulu.” Kata Eunjung.



Enam orang itu mengangguk dan tersenyum. Mereka memandangi punggung Eunjung yang pergi dan semakin menjauh.



“Ayo kita latihan lagi.” Kata Soyeon.



Yang lain mengangguk setuju.



Suara denting piano yang memainkan lagu roly poly kembali terdengar.





-----





“Eunjung!! Eunjung!!” Jinon masih berteriak.



Eunjung berlari mendekati Jinon.



“Jinon!! Aku di sini.” panggil Eunjung.



Saat Eunjung sudah mendekat, Jinon lalu menjitak kepala Eunjung.



“Sakit, mengapa kau menjitakku?” Tanya Eunjung.



“Semuanya khawatir mencarimu.” Kata Jinon.



“Aku bertemu teman-teman yang menyenangkan, semuanya cantik-cantik. Mau aku kenalkan?” Tanya Eunjung.



“Tidak, cepat kita harus kembali ke kemah.” Kata Jinon menarik tangan Eunjung.



“Aku juga mendapat ini dari salah satu teman baruku.” Eunjung menujukkan loket hati emas pada Jinon.



“Mengapa kalung itu seperti bekas terbakar?” Tanya Jinon menatap loket hati emas itu.



Eunjung melihat loket hati itu, benar bagian belakang loket itu hangus seperti bekas terbakar sesuatu, mengapa tadi

dia tidak menyadarinya ya?tadi loket hati emas ini masih tampak baru dan tidak ada cacat sedikitpun. Eunjung kembali mendengar suara lagu roly poly dan denting piano dari kejauhan.



“Mereka berlatih dengan keras hingga malam.” Kata Eunjung.



“Siapa yang berlatih keras?” Tanya Jinon.



“Itu teman-teman baruku, apa kau tidak mendengar suara nyayian?” Tanya Eunjung.



Jinon menggeleng.



“Aku tidak mendengar apa-apa.” Kata Jinon.





-----





Seminggu Kemudian



Gyuri membawa tumpukan Koran lama dan meletakkannya di atas meja. Debu-debu dari Koran beterbangan dan membuat Eunjung terbatuk-batuk.



“Aku menemukan Koran-koran ini di gudang sekolah.” Kata Gyuri.



Mereka mendapat tugas membuat kliping soal bencana atau kecelakaan dari guru mereka. Eunjung meraih salah satu Koran lama yang sudah berbau apak itu, Eunjung lalu terkejut melihat salah satu artikel di halaman depan Koran itu.



Kebakaran Besar Menewaskan Enam Orang Sisiwi Sekolah Putri Joseon



10 November 1976 pada pukul enam petang terjadi kebakaran besar di Sekolah Putri Joseon yang terletak di provinsi Kyungsangbukdo , kebakaran itu hampir menghanguskan seluruh sekolah. Enam sisiwi terjebak dalam kebakaran dan akhirnya tewas terbakar. Menurut Park Sunghwa salah satu guru di sekolah putri, mereka berenam tewas terbakar karena sedang latihan di ruang kesenian.



“Semua murid sudah pulang, tapi enam sisiwi ini sedang latihan paduan suara sehingga tetap berada di sekolah. Mereka sebentar lagi akan mengikuti lomba jadi berlatih keras.” Jelasnya.

Akibat dari kebakaran masih di selidiki pihak kepolisian.

Berikut daftar enam sisiwi yang tewas dalam kebakaran.




- Jeon Boram

- Lee Jihyun

- Park Soyeon

- Park Hyomin

- Ryu Hwayoung

- Park Jiyeon



Eunjung menatap foto di Koran itu seksama.



“Ini tidak mungkin.” Kata Eunjung, suaranya bergetar.



“Kau kenapa?” Tanya Gyuri.



Eunjung lalu meraih ransel sekolahnya, dan mengeluarkan kamera digitalnya. Dia ingin melihat lagi foto yang dia ambil bersama enam orang itu. Eunjung hampir menjatuhkan kamera digitalnya, di foto itu hanya ada sepasang mata dalam ruangan gelap, dan dia yakin sepasang mata itu adalah miliknya, jadi dia hanya berfoto sendirian di ruang kelas yang gelap?, seingatnya waktu itu ruang kelas kesenian sangat terang dan hangat. Apa ini semua hanya halusinasi?



“Jadi mereka semua sudah…” kata Eunjung.



Tiba-tiba dia jadi merasa merinding, dan keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Dari kejauhan dia mendengar sayup-sayup denting piano dan suara enam orang yang bernyanyi riang.





Roly poly roly roly poly

Nal mi-reonaedo nan tashi

Ne-gero da-gakaseo



Roly poly roly roly poly

Naman boil-kkeoya

Neo-ye-ge nareul boyeo jul-kkeoya





-The End-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DONATE

Klik gambar

Klik gambar
peluang usaha